CARA AKU PILIH SAHAM (Edisi 2021) | #GHIBAHINSAHAM

Hai! Kabar baik di sini! Semoga di sana juga ya Di video ini, aku mau ngejawab satu pertanyaan yang paling sering ditanyain tentang saham Kak, gimana sih cara milih saham? Nah untuk ngejawab pertanyaan ini, aku mau ngebagi jadi 2. Cara aku pilih saham jangka panjang dan saham jangka pendek. Karena bakal beda banget caranya Misalnya, ada 1 saham dibeli oleh 2 orang yang berbeda, hasilnya bisa berbeda. Sahamnya sama, tapi hasilnya bisa beda. Satu bisa untung, satu bisa rugi. Tergantung dengan gaya dan jangka waktunya Misalnya, ada orang beli saham Bank BRI (BBRI), dipegang untuk jangka pendek, tapi dibelinya pas harga tinggi. Mungkin aja dia rugi kalo dia trading-in dalam jangka pendek, di saat saham itu lagi turun. Lalu ada orang lain yang juga beli saham BBRI, tapi untuk dipegang dalam jangka panjang bisa jadi dia untung Jadi 1 saham bisa jadi keuntungan dan kerugian untuk orang yang berbeda sesuai dengan cara dia 'trade' atau seberapa lama dipegang saham itu Menurut aku, penting untuk kita milih saham jangka panjang dulu.

Bangun portofolio investasi kita. Karena saham itu sebenarnya untuk jangka panjang. Baru setelah itu kita pilih saham jangka pendek untuk trading. Itu sih cara aku untuk ngatur investasiku di saham. Saat ini, 70% ada di saham jangka panjang, dan 30% di saham jangka pendek. Pertama, ayo kita ngomongin dulu saham jangka panjang. Pasti ga jauh-jauh dari saham perbankan dan barang konsumen. Dua sektor paling besar di IHSG atau pasar modal Indonesia. Okey, sekarang pertanyaannya kalo perbankan, bank yang mana nih kak? Lihat aja keuntungannya dalam 10 tahun terakhir misalnya. Bank BCA (BBCA) kalo ditarik 10 tahun terakhir, keuntungan rata-ratanya 19% per tahun. Kalo Bank BRI (BBRI), keuntungannya sekitar 17% per tahun. Bank Mandiri (BMRI) sebesar 8% dan Bank BNI (BBNI) sekitar 5%. Jadi, kalo aku pribadi, saham perbankan untuk jangka panjang pasti milihnya antara BBCA atau BBRI. Sedangkan untuk sektor barang konsumen, pilihannya lebih terbatas. Ada Indofood (ICBP), Unilever (UNVR), atau Mayora (MYOR). Kalo jangka panjang, kita mau pilih perusahaan yang besar dan kita yakin pasti masih ada dalam 10-15 tahun ke depan.

Kalo ICBP, anak usaha Indofood Grup yang jualan indomie dan barang konsumen lainnya, setiap tahunnya dalam 10 tahun terakhir kasih keuntungan sekitar 15% per tahun. Mayora (MYOR) yang jualan beng-beng, torabika, dll ngasih keuntungan sekitar 11% per tahun. Dan Unilever (UNVR) sekitar 8% per tahun. Kalo aku pribadi harus milih, aku akan pilih BBCA dan ICBP. Pertama, Bank BCA adalah pemimpin industri. Kalo kalangan kelas menengah ke atas, semuanya rata-rata punya rekening Bank BCA. Apalagi online shops atau yang jualan/bisnis, wajib untuk punya rekening Bank BCA untuk transfer atau pembayaran. Kemudian, Bank BCA adalah private bank (bank swasta) yang dioperasikan secara profesional. Beda banget dengan Bank BRI, Mandiri, dan BNI yang adalah BUMN. Kadang, ada 'national services' yang ga seprofesional kalo dijalankan oleh swasta.

Kemudian Bank BCA juga adalah saham paling besar di IHSG, mungkin sekitar 11-12% dari IHSG. Jadi kalo misalnya IHSG sekarang 6 ribuan mau ke 10 ribu, BBCA pasti dari 30an ribu ke 60 ribu atau 70 ribu. Tapi kekurangannya adalah valuasi atau harga BBCA ini sebenarnya udah agak mahal, tapi terkompensasi dengan kualitas dan pertumbuhannya. Kedua, ICBP juga pemimpin industri. Pangsa pasarnya indomie itu sekitar 60-70% Jauh banget kalo dibandingkan sama kompetitornya (WINGS) yang memproduksi mie sedap. Beda banget dengan Unilever (UNVR) yang kompetisinya kencang banget. Sama wardah, brand dari korea yang masuk ke Indonesia, dan brand-brand lokal (makeup & skincare) yang dibikin oleh influencer contohnya. Selain itu, ICBP juga perusahaan swasta yang dijalankan secara profesional. Tapi jeleknya, ICBP punya masalah dalam Good Corporate Governance.

Karena ICBP sering terdapat transaksi afiliasi, perusahaan Pinehill contohnya. Sebelumnya ada Minzhong. Jadi dia suka beli perusahaannya sendiri di luar negeri dengan harga yang lebih mahal dan kadang merugikan investor. Tapi secara valuasi, ICBP ini sebenarnya sangat murah. Cuman untuk tahun ini, karena ini 'cyclical year', yang aku sering bahas di video ini, mungkin ini bukan tahun untuk sektor konsumen atau defensif. Nah, itu untuk saham jangka panjangnya. Kalo saham jangka pendek, biasanya aku lebih 'top-down analysis'. Yang penting ngerti cerita tematiknya untuk tahun ini atau 12 bulan ke depan itu seperti apa.

Aku udah sering bilang di video-video sebelumnya kalo 2021 adalah 'cyclical year'. Dan salah satu cerita besarnya adalah Green Energy yang udah aku ceritain di sini. Selain itu, investor juga nyari banget 'proxy to tech'. Karena kalo di pasar luar negeri, di saat pandemi malahan saham-saham teknologi yang naiknya kencang. Malahan jadi defensif gitu. Sedangkan kalo di Indonesia, kita bukannya ga ada perusahaan teknologi, tapi ga IPO atau belum IPO. Jadi ya investor nyari banget 'proxy to tech' di IHSG atau pasar modal kita itu apa. Salah satu contohnya adalah ARTO atau Bank Jago yang diakuisisi oleh Gojek. Ke depannya digadang-gadang bakal jadi banknya Gopay. Mungkin kalo ARTO ini dilihat dari fundamentalnya di RTI Business ya pasti jelek. Tapi untuk ngevaluasi pertumbuhan atau saham teknologi seperti ini harus pakai cara baru untuk valuasi harganya.

Salah satunya mungkin valuasi dengan 'Customer Value'. Kita ambil rata-rata kalo di Asia, rata-rata deposit per orang sekitar $700-3000. Ambillah yang paling konservatif yaitu $700. Lalu dikalikan dengan jumlah nasabahnya Gopay yang terakhir dilaporkan sebanyak 11 juta pengguna. Berarti $700 dikali 11 juta sekitar Rp 107 Triliun kapitalisasi pasarnya. Itu yang paling konservatifnya. Selain ARTO, ada juga Emtek yang punya saham di Bukalapak, Ant Financial, Vidio, dan lain sebagainya. Selain itu kita juga lagi nungguin IPOnya Gojek atau Tokopedia. Cerita lainnya adalah kalo vaksin berhasil. Dan orang bisa balik ke kondisi normal dan bepergian lagi, sehingga bisa meningkatkan kemampuan daya beli. Jadi selama ini, orang-orang kalangan menengah ke atas, mereka itu uangnya ada tapi gatau mau dihabiskan kemana. Mau beli baju juga ga keluar. Mau jalan-jalan juga ga bisa. Mereka punya banyak uang numpuk mungkin ga akan beli baju atau tas lagi.

Mereka akan beli barang yang lebih mahal, seperti mobil yang kemudian menguntungkan Astra (ASII) atau beli properti yang menguntungkan developer properti, seperti Summarecon (SMRA), Ciputra (CTRA), BSD (BSDE) atau Pakuwon (PWON) Oke, sekarang kita udah tau ceritanya. Green energy, proxy to technology, dan discretionary spending seperti properti dan otomotif Kalo vaksinnya berhasil dan kemampuan daya beli bisa ditingkatkan. Sekarang pertanyaannya adalah, gimana cara memilih saham atau perusahaannya kak? Kita di Ternak Uang itu singkatinnya jadi SPGV. Sehat. Profit. Growth.

Value. Biar lebih gampang diingat aja. Sebenarnya yang lebih penting, pertama adalah keuntungan (profit) dulu sih. Jadi harus pastiin perusahaan atau saham ini menghasilkan keuntungan atau akan menjadi untung. Kita bisa lihat laba bersih per lembar sahamnya (EPS) di aplikasi RTI Business. Harus pastiin kalo angkanya hitam yang artinya positif Atau kalo kita tau ceritanya, manajemen, perusahaannya dan kita yakin angkanya dari merah (negatif/rugi) akan jadi untung (profit). Selanjutnya, pertumbuhan (growth). Mesti pastiin kalo perusahaanya ini ada pertumbuhan yang kuat ke depannya. Aku suka pakai contoh perusahaan Unilever (UNVR). Unilever adalah perusahaan yang bagus, ROE nya tinggi, profit, sehat (utangnya ga banyak), valuasinya juga lagi murah. Tapi pertumbuhannya (growth) lambat karena persaingan yang tadi aku bilang. Dengan wardah, brand dari lokal dan korea. Dulu kalo kita lihat kamar mandi, cuman ada merk Ponds, sekarang udah tergantikan oleh wardah, atau brand lokal dan korea. Investasi di pasar modal itu 'forward looking', lihatnya itu ke depan. Harus pastiin ada growth atau ngga. Ke depannya bakal gimana sih? Biasa-biasa aja atau akan makin baik? Kita mau beli perusahaan yang ke depannya semakin baik.

Nah sekarang kalo misalnya Unilever lagi kencang banget nih persaingan dari yang lain, akan susah labanya untuk bertumbuh, baik dari sisi volume atau dari segi harga. Selanjutnya adalah sehat. Ini kayak cek badan apakah kolestrolnya banyak atau ngga. Dilihat utangnya perusahaan, kalo gede berarti ga bagus. Indikator yang paling mudah untuk ngukur utang gede atau ngga biasanya dilihat dari Debt to Equity Ratio. Bisa di cek di RTI Business. Kalo lebih dari 100% itu ga bagus. Tapi sebenarnya ada indikator yang lebih baik, namanya Net Gearing dan Interest Coverage Ratio. Dan yang terakhir adalah V atau Value (Nilai). Kalo perusahaannya bagus, tapi ga di harga yang bagus, ya susah juga. Kita ga mau beli barang yang kemahalan atau murahan. Aku pernah ceritain tentang cara ngitung nilai wajar saham di video yang ini. Bisa di cek ya buat lebih detailnya. Nah untuk memastikan 4 poin ini (Sehat, Profit, Growth, Value) ada seninya.

Nah bukannya aku gamau bagiin cara ngitung atau target harganya Cuma aku takutnya nanti ga relevan kalo aku bagiin sekarang, tapi ada orang yang nonton 6 bulan lagi target harga atau nilai wajarnya itu mungkin akan berbeda. Karena dalam 6 bulan banyak hal bisa aja terjadi terhadap suatu sektor atau sebuah saham. Nah, jadi itu caraku milih saham. Saat ini 70% dari portofolio aku ada di investasi jangka panjang. Seperti BCA (BBCA), BRI (BBRI), Indofood (ICBP), dan Telkom (TLKM). Biar ga perlu terlalu sering aku liatin dan aku bisa fokus kerjain hal yang lain. Dan 30% untuk investasi jangka pendek, aku taruh di yang ada 'ceritanya'. Seperti green energy, proxy to tech, industri telekomunikasi yang lagi konsolidasi, dan juga interest rate sensitive play.

Dan aku juga lagi nungguin para konsumen untuk meningkatkan daya belinya di barang yang lebih mahal, seperti properti dan otomotif. Tapi ini belum tau ya karena vaksin belum tentu berhasil dan kalo ga berhasil ya ga bisa ditingkatkan juga kemampuan daya beli ini. Nah kemarin pas aku bahas green energy, banyak juga teman-teman yang nanyain tentang perusahaan-perusahaan seperti Terregra (TGRA), Kencana Energy (KEEN), Sky Energy (JSKY) yang agak kecil nih. Nah kalo aku pribadi, aku ada batasan nilai perusahaannya (market cap). Kalo terlalu kecil, di bawah 10 Triliun nilai perusahaannya, biasanya aku akan abaikan aja. Kecuali kalo aku beneran kenal sama CEO-nya, perusahaannya, manajemennya, mungkin aku akan pikirin lagi. Ohya, disclaimer on ya! Ini bukan rekomendasi sama sekali. Ambil aja cara berpikir dan proses investasinya.

Karena aku bisa salah juga, jadi tetap analisa sendiri ya! Aku bisa kasih tau cerita dan sahamnya. Tapi aku ga bisa transfer kepercayaan diri aku. Jadi kamu harus punya kepercayaan diri dengan ngelakuin analisa sendiri! Biar pas sahamnya lagi turun, kamu ga takut dan tegang, juga ga tanya kemana-mana karena kamu udah tau alasan kenapa kamu pilih saham itu. Nah kalo semakin banyak waktumu untuk mantau pasar, boleh tuh naikin porsi untuk trading atau investasi jangka pendeknya. Tapi kalo kamu ga ada waktu sama sekali untuk liatin pasar, yaudah investasi jangka panjang aja. Gausah FOMO (Fear of Missing Out) ngikutin teman-teman yang pamer keuntungannya dalam jangka pendek. Karena pada dasarnya, saham ada investasi untuk jangka panjang. Nah sekarang, giliran kamu yang cerita "Apa alasan kamu beli saham yang kamu pegang saat ini?" Cerita di kolom komentar ya! Terima kasih udah nonton video ini dan sampai jumpa di video yang lain! Bye~